Sunday, March 27, 2016

Tan Malaka: Yang Butuh atau Yang Berhak?



Oleh Mochammad IH

Dibalik suksesnya Belok Kiri Festival di Jakarta Februari lalu, ada beberapa sayap-sayap kiri lain yang memberi komentar sinis acara itu. Saya ingat, beberapa komentar sinis ini dijawab oleh salah satu pendukung Belok Kiri Festival dengan argumen yang lumayan menarik sih.

Menurut komentar tersebut, anak-anak muda generasi millenial yang hobi ikut DWP juga berhak dong untuk mengetahui bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Anak-anak muda yang hobi lari-lari malam juga berhak belajar untuk melawan ketidak-adilan. Anak-anak muda yang hobi mampir ke acara-acara kebudayaan juga berhak mempelajari materialisme dialektika, dan sebagainya.

Setelah hingar bingar Belok Kiri Festival berakhir, lalu tersebutlah salah satu acara teater di Bandung yang mementaskan kisah hidup Tan Malaka akan digagalkan oleh salah satu organ fasis paling fenomenal di negeri ini. Kebetulan akun sosial media Belok Kiri Festival ikut mem-blow up peristiwa ini hingga ramai, mengaduh sampai gaduh. Lalu saya menemukan komentar menarik di sosial media sebagai reaksi atas peristiwa ini.

Dalam komentar tersebut, acara teater ini dituduh menerima donor dari lembaga liberal, mementaskannya di tempat liberal dan hanya kelas menengah (orang-orang mampu) saja yang memiliki akses untuk menontonnya. Lalu menurut komentar tersebut, Tan Malaka sejatinya diletakkan di jalanan, (di ruang-ruang produksi, di tempat-tempat bercocok tanam, di sawah, di tempat nelayan mencari ikan, di desa-desa, di pabrik-pabrik, di kampung-kampung, di hutan-hutan). Interpretasi saya terhadap komentar ini adalah bahwa di tempat-tempat tersebutlah dimana terdapat orang-orang yang membutuhkan Tan Malaka, membutuhkan ajarannya, membutuhkan pemikirannya, membutuhkan bukunya.

Jadi Yang Butuh atau Yang Berhak? Saya pikir dua-duanya sangat penting. Jika generasi millenial perkotaan memahami ajaran Tan Malaka mungkin akan timbul gerakan mahasiswa gelombang baru. Namun jika rakyat yang tertindas mendapat ajaran bapak-bangsa-yang-dilupakan-ini mungkin bangsa ini akan mencapai pintu gerbang revolusi kedua. Atau mungkin ini cuma pemikiran naif seorang pemula saja.***

Mochammad IH adalah seorang siswa yang menempuh di salah satu Pondok Pesantren di Jombang, Jawa Timur dan editor Jurnal Subyektif . Bisa dihubungi lewat Twitter @aliasjojoz

Sunday, February 28, 2016

Kapitalisme: Sebuah Perkenalan


Pengantar dari Jurnal Subyektif


Dalam hari-hari ke depan Jurnal Subyektif akan menurunkan beberapa tulisan terjemahan dari situs libcom.org. Upaya-upaya penerjemahan ini dimaksudkan untuk membagi pengetahuan dan menyadarkan kelas pekerja apa yang sedang terjadi di sekitar mereka. Pada tulisan kedua ini, libcom.org menerangkan apa itu kapitalisme? Bagaimana dia bekerja? Bagaimana sistem itu menjadi salah dan bobrok. Ini adalah tulisan kedua, unntuk tulisan pertama, silakan membacanya di sini.


Sebuah penjelasan singkat dan pengenalan kapitalisme dan bagaimana kerjanya dari libcom.org.
Pada dasarnya, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang berdasarkan tiga hal: kerja-upah (bekerja untuk diupah), kepemilikinan pribadi atau penguasaaan terhadap alat produksi (hal-hal seperti pabrik, mesin, persawahan, dan kantor), dan produksi terhadap pertukaran dan keuntungan.

Sementara itu beberapa orang memiliki alat produksi, atau modal (kapital), kebanyakan dari kita tak memilikinya dan untuk bertahan hidup, kita harus menjual kemampuan (tenaga) kita untuk bekerja untuk mendapatkan upah, atau hal-hal lain yang bermanfaat. Kelompok pertama disebut kelas kapitalis atau "borjuis" dalam jargon Marxis, dan kelompok kedua disebut kelas pekerja atau proletariat. Lihat pengenalan terhadap kelas di sini untuk informasi lebih lanjut mengenai kelas.

Kapitalisme itu berdasarkan proses yang sederhana -- uang/harta ditanam untuk memperoleh uang lebih banyak. Ketika uang berfungsi seperti ini, uang itu disebut kapital/modal. Contohnya, ketika sebuah perusahaan menggunakan keuntungannya untuk mempekerjakan lebih banyak pekerja atau membuka lahan baru, dan untuk membuat keuntungan yang lebih besar, uang dalam hal ini disebut kapital/modal. Ketika kapital/modal berkembang (atau ekonomi berkembang), hal ini disebut 'akumulasi kapital', dan hal ini memberi kekuatan pada ekonomi.

Akumulasi kapital itu akan menjadi lebih baik ketika ia bisa memindahkan biaya ke hal lainnya. Jika perusahaan bisa memangkas biaya tanpa melindungi lingkungan, atau dengan membayar upah pekerja, mereka akan tega melakukannya. Jadi bencana perubahan iklin dan angka kemiskinan yang tinggi adalah tanda bahwa adanya sistem yang bermasalah. Selanjutnya, dengan prinsip uang untuk menghasilkan uang lebih banyak, maka segala sesuatu harus bisa dijual/ ditukarkan untuk menjadi uang (exchangeable for money). Demikian, kecenderungan itu untuk segalanya dari barang sehari-hari seperti rangkaian DNA ke emisi karbondioksida--dan, dengan terpaksa, tenaga kita untuk bekerja - telah dijadikan komoditas yang diperjual-belikan.

Dan ini poin terakhir -- jual-beli kreativitas dan kapasitas kerja, dan tenaga untuk bekerja kita - adalah koentji, hal yang terpenting dari akumulasi kapital. Uang tidak bertambah banyak dengan sihir, tetapi dengan hasil kerja setiap hari.

Di dunia dimana segalanya bisa dijual, kita harus menjual sesuatu untuk membeli kebutuhan-kebutuhan kita. Kebanyakan dari kita tak memiliki apa yang bisa dijual kecuali tenaga untuk bekerja dan harus menjualnya hanya kepada mereka yang memiliki pabrik, kantor, dll. Dan tentu saja, hal yang kita produksi (hasil kerja kita) saat bekerja bukanlah milik kita, mereka milik bos-bos kita.

Kemudian, karena jam kerja yang panjang, kemajuan produtifitas, dll, kita memproduksi barang lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk membuat kita terus menjadi pekerja. Upah yang kita terima kasarnya sama dengan biaya yang dibutuhkan untuk membuat kita tetap hidup dan mampu untuk bekerja setiap hari (maka begitulah mengapa, ketika akhir bulan, tabungan kita di bank kelihatan tak berbeda dengan bulan kemarin). Perbedaan antara upah yang dibayarkan ke kita dan nilai yang kita hasilkan adalah bagaimana akumulasi kapital bekerja, atau keuntungan didapatkan.

Perbedaan ini anatara upah yang kita terima dan nilai yang kita hasilkan disebut dengan "surplus nilai". Pengambilan surplus nilai dari majikan kita adalah alasan kami melihat kapitalisme sebagai sistem yang berdasarkan eksploitasi -- eksploitasi kelas pekerja. Lihat studi kasus tentang bekerjanya sebuah restoran kapitalis untuk contoh.

Proses ini terutama dialami oleh semua sistem kerja-upah, bukan hanya dalam perusahaan privat. Pekerja sektor public juga menghadapi serangan yang terus-menerus terhadap upah dan kondisi mereka takl lain untuk menurunkan biaya dan memaksimalkan keuntungan untuk memajukkan ekonomi sepenuhnya.

Ekonomi kapitalis juga bergantung pada kerja tanpa upah sebagian besar pekerja perempuan.

KOMPETISI

Karena mengharuskan mengakumulasikan kapital, bos kita bersaing dengan para bos dari perusahaan yang lain dalam pasar. Mereka tak bisa mengelak dari kekuatan pasar, atau mereka bakal kehilangan pekerjaan mereka oleh rival mereka, kehilangan uang, bangkrut, diambil-alih, dan terpaksan berhenti menjadi bos kita. Oleh karena itu bahkan para bos tidak memiliki kontrol terhadap kapitalisme, kapital lah yang berkuasa. Jadi karena hal inilah kita bisa membicarakan kapital jika kita memiliki ketertarikan, dan seringkali berbicara tentang 'kapital' lebih tepat daripada berbicara tentang para bos.

Keduanya, para bos dan para pekerja, oleh karena itu, diasingkan dari psoses ini, tetapi dalam cara yang berbeda. Sementara itu dari perspektif pekerja, pengasingan kita berupa pengalaman kita dikontrol oleh para bos, sedangkan pengalaman pengasingan si bos kekuasaan pasar yang tidak menentu dan persaingan dengan bosa-bos yang lain.

Akibatnya, para bosa dan politisi tidak memiliki kuasa dalam menghadapi 'kekuasaan pasar', satu sama lain harus bekerja untuk membuat akumulasi kapital yang berkelanjutan (dalam beberapa contoh mereka melakukan dengan sangat baik!). Mereka tidak bisa beraksi seperti keinginan kita, sejak seluruh persetujuan mereka membolehkan kita membantu kompetitor mereka dalam level nasional maupun internasional.

Contoh, jika industri membangun teknologi baru untuk membuat mobil yang meningkatkan produksi hal ini bisa mem-PHK-kan setengah pekerja, meningkatkan keuntungan dan mengurangi harga mobil untuk menjegal dalam kompetisi.

Jika perusahaan lain ingin memperlakukan pekerjanya dengan baik dan tidak merampok orang, secepatnya hal itu akan mengarah pada kebangkrutan atau diambil alih oleh kompetitor yang lebih kejam - jadi mereka juga bakal membawa mesin baru dan melakukan PHK untuk tetap kompetitif.

Tentu saja, jika bisnis diberi kebebasan sepenuhnya untuk melakukan apapun, monopoli akan segera membangun dan mencekik kompetisi yang mana akan memastikan sistem berputar menuju kehancuran. Campur tangan negara, yang mana akan bekerja demi kepentingan jangka panjang kapital sebisa mungkin.

NEGARA

Fungsi negara bagi masyarakat kapitalis adalah untuk memelihara sistem kapitalis dan menolong akumulasi kapital.

Misalnya, negara menggunakan undang-undang represif dan kekerasan melawan kelas pekerja ketika kita mencoba meningkatkan harapan kita melawan kapital. Contohnya, membuat undang-undang anti-mogok, atau mengirim polisi atau tentara untuk membubarkan mogok kerja dan demonstrasi.

Negara "ideal" di bawah kapitalisme dalam masa sekarang adalah demokrasi liberal, bagaimanapun agar melanjutkan akumulasi kapital berbagai macam sistem politik digunakan kapital untuk melakukannya. Kapitalisme negara di USSR, dan fasisme di Italia dan Jerman adalah dua model, yang mengharuskan bagi ptoritas pada waktu itu untuk menghalau dan menghancurkan gerakan kelas pekerja yang kuat. Gerakan yang mana mengancam keberlangsungan dari kapitalisme.

Ketika perbuatan keterlaluan yang dilakukan para bos membuat buruh/pekerja melawan balik, di sisi yang represi negara yang kadangkala menghalangi untuk menjamin bisnis berjalan seperti biasa tanpa gangguan. Untuk hal inilah undang-undang nasional da internasional melindungi hak-hak pekerja dan lindungan ada dan dibuat. Biasanya kekuatan dan pelaksanaan undang-undang tersebut surut dan mengalir saja dalam hubungan keseimbangan kekuatan antara majikan dan buruh sesuai waktu dan tempat. Contohnya, di Perancis dimana para pekerja/buruh lebih terorganisir dan militan, maka jam kerja maksimal dalam seminggu adalah 35 jam. Di Inggris, dimana para pekerja kurang miliran jam kerja maksimalnya 48 jam dalam seminggu, dan di Amerika Serikat dimana para pekerjanya sama sekali tidak kemauan untuk mogok maka tidak ada jam kerja maksimal berapapun.

SEJARAH

Kapitalisme dihadirkan sebagai sistem yang 'natural', dibentuk seperti bumi dan gunung oleh kekuatan yang melebihi kekuasaan manusia, yang mana sebuah sistem ekonomi yang hasil dari alam manusia. Bagaimanapun kapitalisme tidak diciptakan oleh 'kekuatan alam' tetapi oleh kekerasan yang hebat dan serentak di seluruh dunia. Awalnya di negeri yang 'maju' dulu, perjanjian ini mengarahkan petani yang mandiri dari tanah komunal ke kota untuk bekerja di pabrik. Segala perlawanan (terhadap perubahan ini) dihancurkan. Rakyat yang melawan kerugian dari kerja-upah ditaklukkan oleh undang-undang gelandangan dan penjara, penyiksaan deportasi bahkan hukuman mati. Di Inggris dibawah rejim Henry VIII sekitar 72,000 orang dihukum mati karena menjadi gelandangan.

Kemudian kapitalisme menyebar dengan invasi dan penjajahan oleh kekuatan imperialis Barat di segala sisi dunia. Seluruh masyarakat dengan brutal dihancurkan dengan perubahan komunitas dari tanah yang mereka kerjakan sendiri menjadi kerja upahan. Negeri-negeri yang berhasil menghindar dari penjajahan seperti itu - seperti Jepang - mengadopsi kapitalisme dengan cara mereka sendiri untuk bersaing dengan kekuatan imperialis yang lain. Dimanapun kapitalisme dibangun, petani dan para pekerja sebelumnya melawan, tetapi lalu secepatnya mereka dibalas dengan teror masal dan kekerasan.

Kapitalisme tidak berjaya dengan aturan hukum alam yang mana telah terpasang alamiah pada manusia: kapitalisme disebarkan oleh kekerasan terorganisir oleh para pemimpin/elit. Konsep kepemilikan pribadi pada tanah dan hasil produksi terlihat seperti sesuatu yang alamiah/normal, bagaimanapun kita harus ingat sistem kapitalisme adalah konsep ciptaan manusia yang didukung oleh penaklukkan/penjajahan. Dengan cara yang sama, eksistensi kelas orang-orang yang tak memiliki sesuatu untuk dijual kecuali tenaga untuk bekerja bukanlah sesuatu yang selalu menjadi masalahnya - tanah bersama yang dibagi untuk bersama telah dirampas oleh kekuatan, dan kekuatan yang memaksa kerja-upah dibawah ancaman kelaparan bahkan hukuman mati.

Ketika kapital berkembang, hal ini membuat kelas pekerja sedunia menjadi mayoritas populasi dunia yang mana mereka dieksploitasi namun juga bergantung pada kapital. Karl Marx menulis: "Apapun yang borjuis ciptakan, yang terpenting adalah semua itu diciptakan sebagai penggali kubur."

MASA DEPAN

Selama ini kapitalisme ada sebagai sistem ekonomi yang dominan di bumi hanya sekitar 200 tahun saja. Dibandingkan dengan jutaan tahun eksistensi manusia, sistem kapitalisme hanya seperti kedipan mata, dan oleh karena itu hanya orang-orang naif yang berpikir bahwa kapitalisme bisa hidup selamanya.

Semuanya tergantung pada kita, kelas pekerja, dan tenaga kerja kita yang dieksploitasi, dan kapitalisme akan bertahan jika kita membiarkannya.***

INFORMASI LEBIH LANJUT

- Trik uang paling hebat - Robert Tressel - sebuah perkenalan singkat bagaimana kapitalisme mengeksploitasi pekerja dari novel terkenal dari Tressel The Ragged Trousered Philanthropist.
- Perang Politik Komunitas Pekerja - prole.info - sebuah perkenalan bagus yang menggambarkan petunjuk kapitalisme dan anti-kapitalisme.
- Kapitalisme dan komunisme - Gilles Dauve - sejarah yang lebih detail dan analisis kapitalisme dan antitesisnya, komunisme.
- Capital - Karl Marx - definisi analisis Marx dan kritik terhadap kapitalisme. Buku yang berat tetapi penjelasan yang bagus pada beberapa poin.
- Kapitalisme - bacaan lanjutan - petunjuk libcom.org untuk bacaan lanjut mengenai ekonomi kapitalisme.

*Diterjemahkan oleh Mochammad IH dari Capitalism: an introduction http://libcom.org/library/capitalism-introduction

Sunday, February 21, 2016

libcom.org: sebuah perkenalan

Jurnal Subyektif akan memuat terjemahan dari seri tulisan perkenalan (intorduction guide) dari situs libcom.org dalam hari-hari ke depan. Selamat membaca. (Redaksi)

libcom.org adalah sebuah sumber untuk semua orang yang ingin berjuang untuk memperbaiki hidupnya, masyarakatnya dan kondisi kerjanya. Kami ingin berdiskusi, belajar dari kesuksesan dan kegagalan dari masa lalu dan membangun strategi-strategi untuk meningkatakan kekuatan kita, sebagai orang biasa, mengatur hidup kita sendiri.

Masalah
Kita bangun tidur setiap hari untuk pergi bekerja, menerima tugas dari pimpinan. Kita bekerja menghitung menit demi menit sampai kita pulang ke rumah, menghitung hari demi hari sampai akhir minggu, menghitung minggu demi minggu sampai pada cuti kita, membuat hidup kita menjadi sibuk. Atau pilihan buruknya, kita tak bisa mencari pekerjaan, jadi kita harus bergesekan dengan kepentingan kita. Kita khawatir tentang membayar tagihan kita (biaya hidup) dan sewa dan kita selalu harus melihat saldo di bank pada akhir bulan. Kita berharap jika kita bisa menanamkan sesuatu untuk memulai sebuah keluarga, dan berpikir mungkin tahun depan. Kita marah terhadap perang yang pemerintah mulai, dan mereka mengabaikan kita lagi. Kita melihat berita tentang perubahan iklim dan berharap jika anak-anak kita memiliki masa depan.

Masalahnya adalah bahwa setiap hari kita membentuk sebuah dunia yang tidak dibangun untuk memenuhi kebutuhan kita dan tidak berada dalam kontrol kita. Kita bukan manusia, kita sumber daya manusia, roda penggerak mesin yang hanya punya satu tujuan: profit (keuntungan). Pengejaran terhadap profit yang mebuat kita tertanam di pekerjaan yang membosankan, namun kangen dengan pekerjaan saat kita tidak bekerja. Hal ini membuat kita selalu khawatir terhadap tagihan listrik, air dan kredit rumah dan motor tiap bulan dan ketika rumah kita didambakan sejak dibangun dan dibeli. Hal ini pula membuat bumi terancam bencana alam seperti perubahan iklim yang semakin cepat dan pemimpin dunia yang keras kepala.

Di "dunia" ini, semuanya memiliki harganya masing-masing. Setiap hari, satu persatu dan semakin banyak barang diperdagangkan di pasar. Seabad yang lalu ada mobil yang diperjualbelikan, sekarang bahkan DNA dan atmosfer bumi juga diperjualbelikan dan memiliki harganya. Untuk semua barang itu yang kita nikmati sepanjang hidup ini - persahabatan, cinta dan bermain - ide untuk memberi barang-barang itu harga dan diperjualbelikan adalah sesautu yang aneh bahkan tak pantas. Ide itu menjadi aneh karena pasar tidak bekerja seperti prinsip kita. Kekuatan pasar membiarkan jutaan orang kelaparan di satu sisi dan kelebihan makanan di sisi yang lain. Jutaan orang mati karena penyakit yang bisa dicegah, sementara itu industri farmasi dan obat-obatan menghabiskan banyak uang hanya untuk marketing ketimbang riset-riset kesehatan. Pasar tidak mengindahkan kebutuhan kemanusiaan kecuali kalau mereka punya uang. Satu-satunya cara untuk mendapatkan uang adalah dengan bekerja kepada majikan, atau menuntut hak kita. Dengan kerja-upah, tubuh kita dan pikiran kita oleh pasar diperjualbelikan.

Ketika kita bekerja, kita membuat sesuatu yang bisa dijual. Tetapi kita tidak dibayar atas apa yang kita buat sepenuhnya, sebaliknya ada tidak ada sisa sedikitpun untuk kita kecuali keuntungan untuk para majikan. Jika perusahaan tidak bisa menciptakan keuntungan besar yang cukup, perusahaan akan bangkrut, kita menjadi pengangguran dan uangnya akan ditanam di tempat yang lain. Pikiran para bos dan majikan tidaklah sama dengan kita. Pasar bukan sesederhana: harganya yang selangit atau permintaan yang terlalu kecil. Masalahnya bukan hanya terlalu banyak peraturan pemerintah atau terlalu sedikit peraturan. Masalahnya adalah semua dilabeli dengan harga, semua diperjualbelikan. Di 'dunia' yang dimana pasar untuk kebutuhan manusia hanya muncul jika kita memiliki kekayaan yang cukup untuk membelinya. Pemerintah dunia semuanya bekerja untuk menegakkan 'dunia' ini, kadangkala dengan demokrasi yang memikat dan kesejahteraan, kadang juga dengan tongkat diktator dan peperangan. Ini bukan dunia kita yang kita mau.

Setiap hari, orang-orang biasa seperti kita melawan. Para buruh, pekerja berorganisasi, mogok, menggeruduk dan memberontak, berdiri di sisi kemanusiaan di dunia yang tidak manusiawi ini. Situs ini milik mereka. Kalian. Kita. Kita yang tak ada barang untuk dijual selain tenaga kita dan tak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali ikatan kita. Kita yang hidup sekarat di dunia yang kering seperti vampir. Ketika kita berdiri dan berjuang untuk kebutuhan kita, hak kita, kita membayangkan 'dunia' yang berbeda, dunia yang didasarkan kepada prinsip 'setiap orang berdasarkan kemampuannya, setiap orang berdasarkan kebutuhannya' (sama rata, sama rasa -Mas Marco Kartodikromo). Dunia bagi kemerdekaan dan komunitas. Komunis libertarian.

Cita-Cita
Nama libcom sendiri adalah kependekan dari 'komunis libertarian', cita-cita politik dimana kita berpihak. Komunis libertarian adalah ekspresi politik dari hari ini hingga seterusnya melakukan kerjasama dan solidaritas dalam hidup manusia. Kerjasama menguntungkan kedua belah pihak bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya orang-orangnya berorganisasi dan bekerja sama untuk memasak makanan, menolong orang asing untuk membawa kereta bayi turun dari tangga. Mereka juga bisa menunjukan keterlibatan mereka, seperti suatu grup buruh mogok solidaritas untuk mendukung buruh lainnya seperti kurir koper BA lakukan untuk staf katering Gate Gourmet pada 2005. Mereka juga bisa marah dan menguasai masyarakat seperti dalam acara-acara: Argentina pada tahun 2001, di Portugal pada tahun 1974, Italia pada tahun 1960-1970, Perancis 1968, Hungaria 1956, Spanyol 1936, Rusia 1917, Paris 1871.

Kami lebih memihak pada solidaritas buruh/pekerja, kerjasam, aksi langsung dan perjuangan sepanjang sejarah, meskipun mereka menyatakan komunis libertarin (seperti dalam revolusi Spanyol) atau tidak. Kami juga terpengaruh oleh teori spesifik dan tradisi praktek, seperti anarko-komunis, anarko-sindikalis, ultra-kiri, komunis kiri, marxisme libertarian, dewan komunis dan lain-lainnya.

Kami juga bersimpati pada para penulis dan organisasi seperti Karl Marx, Gilles Dauve, Maurice Brinton, Wildcat Germany, Anarchist Federation, Solidarity Federation, prole.info, Aufheben, Solidarity, the situationists, Spanish CNT dan lainnya.

Bagaimanapun, kami menyadari terbatasnya menggunakan cita-cita tersebut dan mengorganisir masyarakat sekarang. Kami menekankan untuk memahami dan merubah hubungan sosial yang kami peljari di sini dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari untuk keadaan yang lebih baik dan melindungi bumi, meskipunkami masih belajar dari kegagalan dan kesuksesan dari gerakan dan cita-cita buruh/pekerja yang lalu.

Situs
Situs ini berisi berita dan analisis perjuangan para buruh/pekerja, diskusi-diskusi dan 16.000 artikel yang terus tumbuh oleh 10.000 lebih pengguna dari sejarah dan biografi sampai tulisan teori, buku-buku dan pamflet-pamflet. Kami bekerjasama dengan beberapa situs arsip online beberapa tahun ini, dan kami memiliki ribuan tulisan ekslusif ditulis atau di-scan oleh kami. Kami bersifat independen dari organisasi dagang dan partai politiki manapun; situs ini didanai dari dana kolektif para relawan kami dan donasi dari para penggunan.
Jika kamu pikir kamu setuju dengan kami, mengapa tidak mencoba mendaftar dan bergabung?

*diterjemahkan oleh Mochammad IH dari libcom.org: an introduction http://libcom.org/notes/about

**selanjutnya Kapitalisme: Sebuah Perkenalan http://subyektifzine.blogspot.co.id/2016/02/kapitalisme-sebuah-perkenalan.html

Saturday, January 23, 2016

Pendidikan yang Terlupakan




Oleh Tsamrotul AM

Pendidikan yang diterangkan dalam kitab Almufrodat al Fadzil Qur’an adalah menumbuhkan setingkat demi setingkat sampai dalam batas kesempurnaan. Sehingga sesungguhnya pendidikan memiliki ruang lingkup yang sangat luas, tidak hanya sebatas menyekolahkan anak dibangku sekolah, tetapi juga menjadikan semua gerak hidup si anak adalah pendidikan. Semua orang tua pasti ingin mendidik anaknya dengan baik dan benar, tetapi permasalahannya ada yang menerapkan pendidikan dengan cara yang benar, ada juga yang sebaliknya.

Tidak sedikit orang tua yang mengeluh tentang masalah sulitnya mendidik anak mulai dari masyarakat kelas bawah sampai masyarakat kelas atas, tidak sedikit pula yang mengeluarkan biaya banyak untuk pendidikan anaknya. Sejak kecil si anak sudah dididik dengan berbagai macam pendidikan oleh orang tua untuk kebaikan hidup si anak dimasa yang akan datang, mulai dari berbahasa, membaca, menulis, menghafal, mengaji, beribadah seperti sholat berjama’ah di masjid/musholah dan juga berbagai macam kegiatan keagamaan, dan lain sebagainya. Namun realitas yang terjadi di masyarakat setelah masa kanak-kanak yakni masa remaja, banyak yang tidak sesuai dengan harapan orang tua, seolah-olah semua yang diajarkan oleh orang tua tersebut tidak berbekas sama sekali, suatu misal : pada waktu kecil rajin sholat lima waktu namun ketika si anak menjadi remaja hampir tidak pernah sholat sama sekali, menjadi remaja yang sulit dinasehati, kemauannya harus dituruti tanpa mengerti kesulitan orang tua, sebagian ada yang berkeliaran tiap malam tanpa kenal waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, ada yang sampai terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan ada juga yang sampai membunuh orang tuanya.

Apakah yang salah disini? Bukankah pendidikannya yang diberikan kepada si anak sejak kecil itu sudah baik?

Memang baik mendidik anak sejak kecil dengan berbagai macam pengetahuan, tapi mayoritas masyarakat melupakan satu hal dalam menerapkan sebuah pendidikan, mayoritas orang tua sudah mengajari berbagai macam hal, namun mayoritas semua pendidikan yang diajarkan masih hanya sebatas pendidikan otak, belum sampai menyentuh jiwa/hati si anak. Padahal hati adalah sentral, pangkal dari kabaikan ataupun sebaliknya, semua perubahan itu berasal dari dalam jiwa/hati. Sebagaimana Rosululloh SAW bersabda : “Hati adalah raja, jika raja itu baik maka baiklah seluruh rakyatnya, jika raja itu jelek maka jeleklah seluruh rakyatnya” (HR. Abdurrozaq). Kalau hati itu baik maka dimana saja, kapan saja, dalam keadaan apa saja seluruh gerak badan dan fikiran pasti baik, begitu pula sebaliknya.

Disini dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang harus diutamakan adalah jiwa. Kita dapat melihat, sudah lama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan tapi keadilan sekarang masih hanyalah sebagai rumus semata, dan kemakmuran baru ada namun masih banyak yang memihak, banyak orang cerdas yang menjadi pejabat negara, tapi kecerdasannya hanya digunakan untuk membodohi negaranya sendiri. Semua itu karena  pendidikan yang hanya mencerdaskan otak tanpa menyentuh pendidikan jiwa/hati, memang tidak salah memberi pendidikan yang mencerdaskan otak tapi jangan lupa dengan pendidikan jiwa. Maka sangat tepatlah gubahan syair Wage Rudolf Supratman dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, dalam lagu tersebut kita diseru membangun jiwa dahulu, baru setelah itu membangun badan/raga, jadi kedua-duanya harus dibangun baik jiwa atau raga, moral atau material, namun ada yang harus terlebih dahulu untuk diutamakan.

Dalam  hadits nabi disebutkan setiap anak lahir dalam keadaan suci[?]. Dan ada teori yang dikemukakan oleh John Locke asal Inggris, yang mana teori tersebut disebut dengan teori tabularasa, teori yang menganggap seorang anak manusia yang baru lahir seperti halnya kertas putih yang masih kosong dan dapat ditulis sesuai dengan keinginan yang menulisnya[?]. Maka disini dapat disimpulkan bahwa kita sebagai pendidik kita tidak dapat menyalahkan apa yang menjadi kenakalan si anak, karena itu kita harus mengintropeksi diri sendiri apakah yang kita terapkan dalam pendidikannya sudah baik atau malah sebaliknya. Karena pendidikan pada anak yang masih kecil itu laksana mengukir diatas batu, sehingga apa yang kita ajarkan pada si anak akan berbekas sepanjang hidupnya, jika pendidikan jiwa diberikan pada anak kecil maka akan menjadikan generasi penerus yang tidak hanya ber IQ tinggi tetapi juga beradabin hasanin. Selain itu mendidik jiwa si anak tidak memerlukan biaya banyak, sehingga tidak ada alasan masalah ekonomi bagi orang tua yang ingin berhasil mendidik anaknya dengan benar.

Setiap manusia mempunyai 2 fithroh yakni fithroh fujur (potensi keburukan)  dan fithroh taqwa (potensi kebaikan), dan  kedua fithroh tersebut harus dididik[?]. Diantara metode pendidikan dalam Alqur’an dalam surat Saba’ ayat 28, “Dan kami tidak mengutus kamu (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia, untuk memberi kabar gembira dan peringatan.”

Pada ayat diatas disebut kata “Basyiiron” artinya: kegembiraan, dan juga disebutkan “Nadhiiron” artinya : peringatan. Kalimat  basyiiron didahulukan baru setelah itu nadhiiron, ayat ini menunjukan kepada kita metode tentang pendidikan yang benar. pada usia dini cara mendidik anak dengan mengutamakan pendidikan yang memberi kegembiraan (basyiiron) pada anak, dan inilah yang akan mempermudah memunculkan fithroh taqwa yang terpendam pada diri si anak ke atas permukaan, jika memberi peringatan kepada anak kecil akan membuat fithroh taqwanya tersebut menjadi mimpes, mengkerut karena memberikan pendidikan kepada anak yang belum waktunya menerima. Sehingga menghambat berkembangnya fithroh taqwa karena tekanan-tekanan bathin tersebut, contoh kalimat yang memberikan tekanan kepada anak diantaranya : “Jika kamu tidak begini kamu akan..../ Jika kamu tidak mendapat nilai bagus kamu akan....” 

Jangan juga menakut-nakuti anak dengan hantu, kuntilanak atau apa yang menakutkannya, sebisa mungkin sebagai orang tua harus menjaga ucapannya karena itu banyak mempengaruhi perkembangannya jiwanya. Selanjutnya jika anak tersebut sudah bisa membedakan baik dan buruk barulah dididik  dengan memberi peringatan agar fithroh fujur itu tidak berkembang. Yang harus diingat disini adalah kita harus tahu kapan waktunya menerapkan metode basyiiron dan kapan waktunya menerapkan metode nadhiiron, mengingat yang dituju dalam mendidik jiwa adalah jiwa si anak maka yang mendidik juga adalah jiwa dari pendidik.

Luqman adalah nama seorang yang diabadikan dalam Alqur’an sebagai surat nomor 31, beliau adalah seorang yang diberi hikmah oleh Alloh, karena hikmah-hikmah yang menyumber dari hatinya maka beliau dijuluki Luqman Alhakim, beliau sangat peduli dengan pendidikan, ajaran yang paling awal diajarkan pada jiwa anaknya adalah keimanan untuk tidak menyekutukan Alloh, adab (tata krama), dan juga ubudiyah (tata cara ibadah), yang diajarkan beliau juga seperti  ajaran yang diterapkan oleh Rosululloh seperti demikian, Jundab Albajly ra : “Dahulu, ketika kami menjelang usia baligh bersama Rosululloh, kami mempelajari keimanan sebelum mempelajari Al qur’an, setelah itu baru mempelajari Al qur’an, akibatnya bertambah keimanan kami.” Maka kita sebagai manusia yang berpegang teguh pada Alqur’an dan sebagai umat nabi muhammad maka kita selayaknya mengikuti metodenya.

Selain itu untuk mengajarkan keimanan pada jiwa anak ketika baru lahir yakni dengan cara telinga kanan diperdengarkan adzan dan juga telinga kiri diperdengarkan iqomat. Selain itu untuk mengajarkan keimanan pada si anak dengan menunjukan kasih sayang Alloh ta’ala terhadap ciptaanNya yang ada pada sekitar si anak, baik dengan cara deskripsi, cerita-cerita, lagu-lagu, maupun tanya jawab ringan dengan si anak, intinya mengaitkan kejadian yang terjadi sehari-hari di sekitar anak dengan kebesaran Alloh. Suatu contoh tanya jawab ringan: saat anak bertanya “Ayah, kenapa burung kok bisa terbang ?” maka jangan hanya menjawab : “Iya, burung bisa terbang karena mempunyai sayap” tapi jawablah “Iya, Alloh yang berkehendak dan menggerakkan burung itu, dengan cara Alloh menciptakan sayap dan mengajarinya terbang, sehingga burung bisa terbang.” Dan insya Alloh jika metode-metode seperti itu diterapkan maka lambat laun akan tertancap kuat pada jiwa si anak.

Mengingat anak adalah buah hati, dan warisan terbaik bagi orang tua kepada anaknya adalah warisan adab yang baik, dan mempunyai anak yang sholih/sholihah (anak yang mau mendoakan orang tuanya) itu adalah amal yang tidak akan putus walaupun pedang maut memutuskan, maka jangan sampai kita mendidik anak dengan metode yang salah. Mengutip dari dawuh Guru saya pendidikan itu tidak penting, tetapi maha penting[?]. Disini marilah kita selalu berdo’a dan berusaha untuk belajar mendidik saudara-saudara kita, anak-anak kita dengan sebaik-baiknya.***

Tsamrotul AM adalah seorang pelajar di alam semesta yang setiap malam menjadi pengajar bagi anak-anak tetangganya.

Catatan:
[?] Butuh rujukan
 
Redaksi Jurnal Subyektif menerima naskah tulisan apapun dengan motif menjunjung tinggi kebebasan ekspresi bisa dihubungi lewat editor @aliasjojoz di twitter

Thursday, January 21, 2016

Refuse HC Mengeluarkan Single Baru: Do It Yourself!

Refuse unit yang mengaku Oldschool Hardcore/Hardcore Punk era tahun 1980-1990an mengeluarkan single baru yang baru yang berjudul Do It Yourself!



Berikut lirik berikut terjemahannya:

Do It Yourself
(Lakukanlah Sendiri)

If you wanna thing done well?
(Jika kau ingin semua berjalan dengan lancar?)
If you think it's that simple, then?
(Jika kau pikir hal ini begitu sederhana?)
You have to do it yourself
(Kau harus melakukannya sendiri)
No one else do it for you
(Siapapun takkan melakukannya untukmu)
You must work put your own, salvation!
(Kau harus bekerja untuk dirimu sendiri, pembebasan!)

Do it yourself!
(Lakukanlah sendiri!)
Do it yourself!
(Lakukanlah sendiri!)

If you wanna thing done well?
(Jika kau ingin sesuatu beres?)
Do it yourself!
(Lakukanlah sendiri)
If you think it's that simple, then?
(Jika kau pikir ini sederhana, lalu?)
Do it yourself. yeah!
(Lakukanlah sendiri, yeah!)

Semangat DIY (Do It Yourself) adalah ciri khas dari Punk Movement beserta turunan-turunannya (sekaligus Hardcore Movement tentu saja). Semangat untuk melakukan hal semuanya sendiri. Semangat ini menurut sejarahnya, merupakan sebuah perlawanan terhadap industri musik waktu itu.[?] Punk dinilai tidak sesuai dengan telinga pasar, sehingga ramai-ramai para label besar menutup kesempatan bagi mereka untuk membuat album dengan modal besar. Musisi yang dikontrak label besar sebagian besar hanya membuat karya, label yang lalu merekam, menggandakan, mengedarkan dan menjual album mereka. Lalu mereka yang telah ditolak label ini memutuskan untuk membuat album sendiri dan mengedarkannya sendiri.

Bila dilihat aktivitasnya, semangat DIY sangat dekat dengan ideologi anarki. Anarki bukan berarti kekerasan, istilah ini mengalami dekonstruksi makna oleh media Indonesia sejak Orde Baru[?]. Anarki menjunjung tinggi persamaan derajat, menolak adanya kekuasaan manusia atas manusia, sehingga mereka menolak adanya otoritas negara. Memang beberapa kelompok anarkis (sebutan penganut ideologi anarki) menggunakan aksi-aksi kekerasan dan teror seperti black bloc dan sabotase. Namun sebagian kelompok anarkis juga tidak memakai aksi-aksi kekerasan seperti itu.[?]

Anarki juga mendukung adanya kerjasama dengan membangun sebuah komune dimana alat produksi dimiliki bersama oleh kelas pekerja[?]. Hal inilah yang membuat anarki kelihatan sama dengan semangat DIY yang dijunjung oleh Punk Movement: membangun alat-alat produksi sendiri secara kolektif untuk digunakan secara bersama-sama dengan punk lain. Alat-alat produksi yang dimiliki secara pribadi oleh para kapitalis kemudian ditinggalkan oleh punk. Jadi menurut redaksi, semangat DIY bukan hanya soal kemandirian tapi juga menolak adanya sistem kapitalisme dengan kepemilikan alat produksi secara pribadi.

Do It Yourself sendiri akan Refuse masukkan bersama split album bersama Diskretion, salah satu band Jombang pula, dibantu oleh Totaliar Records, salah satu sub movement dari unit hardcore Meracau.***


[?] butuh rujukan


Redaksi Jurnal Subyektif sementara bisa dihubungi lewat editor webzine ini: @aliasjojoz

Wednesday, January 13, 2016

Meracau: Tentang Unit Hardcore-Punk Baru yang Menjanjikan


Oleh Mochammad IH | @aliasjojoz

Ketika penulis diminta untuk me-review sebuah single pertama dari sebuah unit hardcore-punk baru dari Jombang, penulis sedikit segan, mengingat koleksi penulis untuk musik hardcore-punk sangat terbatas. Kemudian posisi penulis yang tidak terlalu mengikuti skena musik arus bawah tanah Jombang dikarenakan kesibukan.  Lagipula penulis tidak menemukan hal yang baru dalam skena Jombang dalam hal tendensi dan keberpihakan politik mereka, sesuatu yang penulis tunggu-tunggu sejak gelombang Gerakan Menolak Reklamasi Teluk Benoa di Bali. Namun penulis ingin tulisan ini menjadi sebuah usaha yang sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Berikut single pertama Meracau yang diunggah ke akun soundcloud mereka:


Ketika mendengar pertama kali, sound gitar yang dipakai oleh mereka cukup retro. Hal ini memaksa penulis mendengar koleksi unit-unit punk lawas dan menemukan beberapa track Warzone yang cukup membawa pengaruh namun minus solo gitar. Ketika membuka koleksi musik punk kontemporer, penulis mendapati ada Vomit Crew dan The Kuda dalam Sebotol Whiskey, musik yang digeber cepat dan bertenaga tanpa tedeng aling-aling.


Di departemen lirik, suara mahasiswa perantauan indekos yang masih bergantung pada kiriman orang tua cukup kentara. Penulis merasakan apa yang ditulis Meracau adalah kejujuran atas kehidupan mereka. Hal ini cukup sering ditemui pada musisi arus pinggir lain, tentang suara-suara yang mereka rasakan sendiri secara subyektif, yang malah terkesan obyektif karena beberapa kelompok masyarakat juga merasakan perasaan dan penderitaan yang sama. Fenomena ini pernah penulis tuliskan dalam halaman yang lain di blog ini.

Penulis jadi mengingat Widji Thukul. Penyair ini menyuarakan kehidupan sehari-harinya dalam puisi-puisinya, suaranya dirasakan oleh orang-orang yang sehari-harinya bernasib sama dengan Widji Thukul, kaum miskin kota dan pekerja sektor informal yang dipinggirkan atas nama "pembangunan" Orde Baru. Sedang Meracau menyuarakan keadaan sehari-harinya yang diamini oleh kelompok-kelompok mahasiswa perantauan.




Wajah-wajah punggawa Meracau adalah para pemuda yang cukup aktif berseliweran di skena Jombang. Saking aktifnya, hampir tiap gig arus bawah tanah di Jombang unit-unit mereka selain Meracau menjadi langganan line up utama skena Jombang. Ya, Meracau bukan band pertama yang mereka bangun. Ketika penulis mendapati teaser proyek Meracau dibagikan di media sosial, penulis berpikir musik apalagi yang akan dihadirkan oleh anak-anak ini? Mungkin terkesan hobi membangun unit-unit musik yang baru dan terkesan meninggalkan unit lawas, namun penulis pikir inilah cara otentik mereka untuk membangun skena Jombang--yang seringkali dipandang kota yang tidak istimewa-istimewa amat, apalagi dalam dunia perkancahan musik arus pinggir. Penulis menghormati usaha-usaha mereka yang aktif membagikan hal-hal segar di skena. Viva la scena!

Kabar terbaru yang mereka bagikan kepada penulis, Meracau berencana akan mengemas Sebotol Whiskey dan 6 lainnya dalam bentuk CD, semangat Do It Yourself mereka tonjolkan. Sepertinya ini serius dan menjanjikan. Tabik.***

Penulis adalah editor Jurnal Subyektif, pertama kali diunggah di blog pribadi penulis.